Kabarjournalist.com – Sukabumi – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Warungkiara tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga mengubah limbah menjadi sumber manfaat.
Melalui program pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk kandang organik, warga binaan pemasyarakatan (WBP) dilatih keterampilan sekaligus mendapatkan penghasilan, sementara lingkungan tetap terjaga dan hasilnya bermanfaat bagi para petani.

Program ini menjadi bagian dari pemberdayaan yang lebih luas, di mana selain mengolah lahan pertanian di lingkungan lapas, WBP juga dilibatkan dalam siklus pengelolaan limbah ternak yang bernilai ekonomi.
Dalam kunjungan khusus awak media Kabarjournalist.com, Rabu, 24 Juni 2026, Kasi Giatja, Adi didampingi Kasubsi Bimbingan Kerja, Wildan dan Humas Aditya, menjelaskan bagaimana program ini berjalan.
“Pengolahan ini melibatkan langsung para WBP. Mereka tidak hanya dilatih, tapi juga mendapatkan premi sebesar Rp1.000 per karung pupuk yang dihasilkan,” ujar Wildan.
Tujuan utamanya lebih dari sekadar menghasilkan produk. Program ini bertujuan membangkitkan semangat, melatih kemandirian, serta mengasah keterampilan terutama bagi mereka yang memiliki ketertarikan atau latar belakang di bidang pertanian.

Proses Pembuatan: Bersih, Tidak Berbau, dan Ramah Lingkungan
Pembuatan pupuk kandang di Lapas Warungkiara mengikuti tahapan yang terstruktur agar hasilnya berkualitas tinggi dan aman bagi lingkungan.
Pencampuran Awal
Kotoran sapi dari sekitar 300 ekor ternak yang dikelola lapas dicampur dengan sodas. Bahan ini berfungsi mengurangi bau menyengat sekaligus mencegah pencemaran udara di sekitar lokasi pengolahan.
Proses Pengomposan

Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke bak penampungan dan ditambah sekam bakar serta serbuk gergaji kayu. Serbuk gergaji berperan menjaga kelembapan agar pupuk tidak terlalu lembek, sementara sekam bakar membantu proses penguraian secara alami. Semakin lama proses pengomposan berlangsung, semakin matang dan baik kualitas pupuknya.
Hasil yang Terukur
Dari 150 ekor sapi, dalam kurun waktu 2 minggu terkumpul sekitar 5 ton bahan baku. Setelah melalui pengomposan dan pengeringan, beratnya berkurang menjadi sekitar 3–3,5 ton pupuk matang, setara dengan 150–175 karung berukuran 20 kg. Dalam satu bulan, total produksi mencapai sekitar 60 ton, tanpa ada limbah yang terbuang.
Manfaat Ganda: Bagi WBP, Lingkungan, dan Petani
Program ini memberikan dampak yang meluas:
– Bagi WBP: Mendapatkan keterampilan yang bisa diterapkan kembali setelah bebas, serta penghasilan tambahan yang mendorong rasa tanggung jawab.
– Bagi Lingkungan: Mengurangi tumpukan limbah ternak dan meminimalkan polusi bau serta pencemaran tanah.
– Bagi Masyarakat: Petani di sekitar Warungkiara dapat membeli pupuk kandang ini dengan harga yang terjangkau dan kualitas terjamin, cukup dengan menghubungi petugas Lapas Kelas II A Warungkiara.
Melalui inovasi ini, Lapas Warungkiara membuktikan bahwa pembinaan tidak harus berhenti di dalam tembok. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada secara cerdas, limbah bisa berubah menjadi nilai guna, keterampilan tumbuh, dan harapan baru terbuka bagi para warga binaan untuk masa depan yang lebih baik.
Red/HJS






















